Mengajar hari ini, menyiapkan generasi esok

  • – Hasan al-Bashri

    "Jika seorang mencari ilmu, maka itu akan tampak di wajah, tangan, dan lidahnya serta dalam kerendahan hatinya kepada Allah".

  • – Imam Syafi’i

    "Ilmu adalah yang memberikan manfaat, bukan yang sekadar hanya dihafal".

  • – Sufyan bin Uyainah

    "Tahapan pertama dalam mencari ilmu adalah mendengarkan, kemudian diam dan menyimak dengan penuh perhatian, lalu menjaganya, lalu mengamalkannya dan kemudian menyebarkannya"

  • – Imam Syafi’i

    "Barangsiapa belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat, ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya"

  • – Ali bin Abi Thalib

    "Ilmu itu ada dua macam: apa yang diserap dan yang didengar. Dan yang didengar tidak akan memberikan manfaat jika tidak diserap"

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

15 November 2025

Dua Lilin di Ujung Senja

https://herisusantonews.blogspot.com/2025/11/dua-lilin-di-ujung-senja.html

Raka dan Naya selalu bilang bahwa hidup itu sebenarnya cuma panggung kecil tempat manusia mengambil peran seenaknya. Dan mereka berdua memilih jadi pemeran komedi. Dalam keseharian, mereka ribut seperti dua kucing yang berebut tempat tidur, namun tak pernah bisa hidup tanpa suara satu sama lain. Kadang mereka berdebat soal hal sepele—siapa yang paling banyak makan gorengan, siapa yang suara kentutnya lebih memalukan—tapi justru karena itulah keduanya merasa dunia ini masih waras.

Setiap sore, mereka nongkrong di warung kopi sederhana dekat kantor. Kursi plastiknya sering miring, meja kayunya sudah mulai keropos, tapi entah kenapa, tempat itu jadi saksi paling setia pertemanan mereka. Seperti sumur tua yang tetap memberi air walau musim berubah-ubah.

Namun belakangan, ada sesuatu yang berbeda dari Raka. Tawa yang biasanya meledak seperti petasan tahun baru kini hanya muncul sesekali, setipis asap dupa. Langkahnya melambat, dan matanya sesekali terlihat kosong—seperti lampu jalan yang kehilangan cahaya di dalamnya.

“Nah, jangan bilang kamu diet, Ra. Kamu kalau diet bisa bikin para tukang bakso rugi bandar,” candaan Naya suatu sore, mencoba memecah keheningan.

Raka tertawa kecil. “Iya, iya. Mesin tua kayak aku memang harus hati-hati.”

Jawaban itu terdengar enteng, tapi tidak bagi Naya. Kata “mesin tua” itu seperti paku kecil yang diam-diam menusuk hatinya. Ada hal yang tak pernah Raka ceritakan, itu sudah jelas. Tapi Naya tidak menekan. Ia tahu, sebagian orang butuh waktu untuk membuka pintu batinnya.

Suatu hari, Raka tidak muncul. Bukan hanya sekali—dua kali, tiga kali. Pesan singkat yang ia kirim hanya berbunyi, “Sorry, lagi banyak urusan.”

Naya gelisah. Rasa cemas dalam dadanya merebus dirinya sendiri, seperti panci tertutup yang terus memanas tanpa henti. Ia tahu Raka bukan tipe orang yang tiba-tiba hilang.

Ketika akhirnya mereka bertemu lagi, Raka batuk keras sampai tubuhnya membungkuk. Wajahnya pucat. Bukan pucat karena kurang tidur—lebih seperti kertas yang kehilangan warnanya.

“Ra, kamu sakit ya?” suara Naya melembut, hampir lirih.

“Ah, enggak. Ini cuma alergi sama muka kamu,” Raka masih bercanda. Tapi tawa itu rapuh sekali, seperti benang yang hampir putus.

Sore itu, mereka duduk di bukit kecil yang dulu sering mereka kunjungi saat masih sekolah. Angin mengibaskan rumput tinggi yang berbisik pelan. Tempat itu selalu punya cara mengembalikan kenangan.

“Aneh ya,” kata Naya pelan. “Dulu kita sering ke sini buat ngomongin masa depan. Sekarang kita ke sini buat nyari napas.”

Raka tersenyum tipis. “Setidaknya masih bisa nyari napas bareng.”

Ada sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang seperti kotak musik yang suaranya hampir habis.

Beberapa hari kemudian, Naya sudah tidak tahan. Ia nekat datang ke rumah Raka. Pintu dibukakan oleh ibunya—wajahnya kusut, seperti kain yang kehilangan warna.

“Naya… kamu belum tahu, ya?” suara wanita itu bergetar.

Naya menatap bingung. “Tahu apa?”

Ibu Raka menahan tangis. “Raka… sudah lama sakit. Cancer, Nak. Dia tidak mau kamu tahu. Dia takut kamu sedih. Dia bilang… kamu harus tetap bisa ketawa meskipun suatu hari dia nggak ada.”

Langit dalam dada Naya runtuh saat itu juga.

Di kamar Raka, ia menemukan sebuah kotak kecil berisi catatan-catatan pendek. Di salah satunya tertulis:

“Naya, kalau suatu hari aku pergi duluan, tolong lanjutkan hobi kita: bikin hidup ini nggak terlalu serius. Aku tahu kamu bisa.”

Air mata Naya jatuh, tapi bibirnya tersenyum. Raka, si bodoh itu, bahkan di tengah penyakitnya masih sempat memikirkan dirinya.

Sejak hari itu, Naya lebih sering menemani Raka. Mereka kembali bercanda, meski tawa mereka ibarat dua lilin yang mengibaskan cahaya rapuh di ujung senja.

Suatu malam, saat pulang dari rumah Raka, Naya mengirim pesan,
“Besok aku bawain gorengan favorit kamu. Tapi jangan habisin sendiri ya.”
Raka menjawab dengan emoji tertawa.

Tapi keesokan harinya, Naya tidak pernah datang.

Ia mengalami kecelakaan. Kecelakaan sederhana tapi mematikan. Hidup, kadang seperti jendela kaca yang terlihat kuat, namun retaknya tak bisa ditebak.

Ketika kabar itu sampai ke Raka, ia terdiam. Bukan menangis. Bukan marah. Hanya diam… seperti jam yang kehilangan jarumnya.

“Harusnya… aku dulu,” gumamnya lirih.
Kalimat itu pecah seperti daun kering yang diremas angin.

Beberapa hari kemudian, Raka memeluk salah satu pesan yang dulu ia tulis untuk Naya:

“Kalau aku pergi duluan, jangan berhenti ketawa, ya.”

Ironisnya, sekarang pesan itu justru terasa seperti pesan dari Naya untuk dirinya.

Ia menatap langit senja melalui jendela. Awan-awan tipis bergerak perlahan. Dua gumpalan berdampingan—satu memudar lebih cepat, satu masih bertahan, tapi pelan-pelan menyusul.

Raka tersenyum tipis. Senyum kecil, goyah, tapi tulus.

Karena beberapa pertemanan, seperti dua lilin kecil, tetap saling memberi cahaya—bahkan ketika salah satunya padam lebih dulu.

Dan Raka tahu, selama ia masih bisa tersenyum, Naya tidak benar-benar pergi.

Baca juga :

Cerpen - Jejak Dibalik Pintu Senyap

Share:

14 November 2025

Jejak di Balik Pintu Senyap

https://herisusantonews.blogspot.com/2025/11/jejak-di-balik-pintu-senyap.html

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan, kabut pagi menghangatkan suasana dengan warna kelabu yang lembut. Di dalamnya, terdapat dua sahabat lama, Alya dan Dara, yang terikat oleh kenangan masa kecil dan rahasia yang tersimpan dalam hati masing-masing. Persahabatan mereka bukan hanya sekedar hubungan biasa; ini adalah ikatan yang digambarkan seperti pasangan bangau yang selalu kembali ke titik yang sama meski berkelana jauh.

Namun, kedamaian desa itu terganggu ketika Dara menghilang secara misterius. Sebelum kepergiannya, sebuah konflik kecil telah memisahkan mereka, meninggalkan Alya dalam kesedihan dan kebingungan. Suatu malam, saat Alya membuka buku harian Dara, ia menemukan kunci tua yang tergeletak di antara halaman-halaman yang penuh kenangan. Catatan kecil yang menyertainya berbunyi, “Seperti bangau, kita akan pulang ke tempat yang sama. Temukan aku di jejak terakhir.”

Dengan perasaan gelisah, Alya mulai merasakan kehadiran yang aneh di rumahnya. Setiap malam, ada suara langkah yang mengganggu ketenangan, seolah sesuatu mengawasinya dari kegelapan. Ketika hujan turun, membasahi tanah dan menciptakan jejak basah di jalan setapak, Alya merasa terdorong untuk mengikuti jejak itu menuju hutan.

Dalam pencariannya, Alya menemukan gubuk tua—markas rahasia mereka semasa kecil. Hanya ada satu pintu di sana, pintu yang berderit menggema dalam kesunyian, tetapi isi di dalamnya lebih mengejutkan. Dinding gubuk itu dipenuhi simbol-simbol aneh, seolah-olah menyimpan pesan-pesan dari masa lalu mereka. Setiap simbol mengingatkan Alya bahwa meski hubungan mereka tak selalu mulus, mereka selalu berhasil menemukan jalan pulang, seperti bangau yang kembali ke sarangnya.

Ketika Alya berusaha membuka kotak kayu yang terkunci dengan kunci tua tersebut, ia bertemu dengan Nenek Suri, seorang tetua desa yang dikenal dengan kebijaksanaannya. Nenek Suri menambahkan lapisan misteri ketika ia mengaku melihat Dara malam sebelum ia menghilang. “Ia terlihat seperti sedang meninggalkan pesan pada dunia,” ujarnya, matanya menyiratkan bahwa ada lebih banyak yang perlu diungkap.

Dari dalam kotak kayu itu, Alya menemukan surat-surat kecil dan rekaman suara Dara. Rekaman itu mengungkap sesuatu yang mengejutkan—Dara tahu bahwa Alya berencana pergi meninggalkan desa dan merasa persahabatan mereka memudar dalam perjalanan itu. Setiap teka-teki yang ditinggalkannya adalah caranya untuk membuat Alya menyadari bahwa meskipun jarak memisahkan mereka, persahabatan mereka tetap hidup dan selalu bisa kembali utuh.

Dengan hati yang berdebar, Alya merasakan ledakan emosi ketika ia menyadari betapa dalam dan tulusnya hubungan mereka. Namun, di tengah renungannya, muncul rasa khawatir. Apakah dia sudah terlambat? Apakah dia dapat membawa Dara kembali?

Ketika badai mulai melanda desa, Alya berlari menuju tepi sungai, tempat di mana mereka sering bermain. Di sana, di balik kabut, ia menemukan Dara yang basah kuyup dan ketakutan. Ternyata, ia terjebak di tengah badai saat mencoba menyiapkan “misteri” untuk Alya. Dalam pelukan mereka yang hangat, air mata keduanya mengalir, saling mengakui rasa takut kehilangan yang begitu mendalam.

***

“Persahabatan adalah kunci tua—terlihat usang, tetapi ia membuka pintu-pintu yang tidak dimasuki orang lain. Dan seperti bangau, kami selalu menemukan jalan pulang, meski diterpa ribuan kabut.”

Dalam kisah ini, Alya dan Dara belajar bahwa sahabat sejati tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Dengan jejak yang tertinggal, mereka menemukan diri mereka sendiri dan menguatkan kembali ikatan yang pernah goyah. Jarak bukanlah akhir dari hubungan mereka, tetapi kesempatan untuk kembali dengan pengertian baru. Masa lalu, selama kita tahu kunci untuk membukanya, bukanlah beban, melainkan bagian yang memperkuat cerita persahabatan mereka.

Share:

26 Oktober 2021

Kupandangi Ikan-ikan Itu

Benar-benar pagi yang cerah. Semburat mentari yang belum tinggi beranjak. Seakan bermalas-malasan. Memperlambat waktu, memamerkan keindahannya, untuk selama mungkin terlihat. Angin pagi yang dingin menyegarkan siapa saja yang merasa gerah. Dari hal itu saja, sangat memudahkanku untuk mengucap syukur kepada Tuhan.

Sinar mentari mulai terlihat di antara lengkungan cabang dan ranting, mengirimkan bayangan dedaunan di wajahku. Seakan bercanda mengajakku tersenyum. Tapi, pagi ini seakan berbeda. Perasaan ini tidak mudah aku hilangkan. Ada kegalauan, takut, tapi juga harapan yang membumbung tinggi. Ya, hari ini adalah jawabannya. Jawaban dari semua harapan berbalur kecemasan. Hal itulah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Tapi aku sadar kok, bahwa tidak baik cemas berkepanjangan tentang masa depan, sampai-sampai mengabaikan masa sekarang, sehingga aku tidak benar-benar hidup di masa depan atau masa sekarang. Jadi, lebih baik bagiku untuk fokus pada masa sekarang. Ya, sekarang waktunya menunaikan tugas dan kewajibanku, mengajar.

Share:

Subscribe Us

Latihan TKA (SD, SMP, SMA/SMK)

Latihan TKA (SD, SMP, SMA/SMK)
Berlatih dan Bisa

Pengikut

Statistik Pengunjung

Promo